Penulisan Sejarah Itu Ilmiah Namun Juga Ideologis Politis

Proses penulisan sejarah itu bukan hanya wilayah akademis-ilmiah, melainkan juga ideologis-politis. Karena itu di zaman Orde Baru, penulisan sejarah bersifat militeristrik-sentris. Narasi sejarah adalah narasi kiprah para pejuang di medan perang. Karena itu yang dipelajari adalah sejarah perang, perang antar kerajaan, pejuang vs VOC, perang saudara, dan konflik kekuasaan. Bukan sejarah ilmu pengetahuan, bukan pula sejarah pembentukan peradaban Nusantara.

Peneliti sejarah alias sejarawan itu berbeda dengan tukang dongeng alias shohibul hikayah. Pendongeng bisa saja menyampaikan cerita secara apa adanya maupun dibumbui dengan unsur lain agar menarik dan bombastis, tapi sejarawan harus teliti dengan metode heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Data yang ada harus dikroscek, diteliti, dianalisis-tafsirkan, hingga disusun secara sistematik.

Pengetahuan sejarah juga dibentuk melalui nama jalan. Di era Orde Baru, nama-nama jalan protokol semua menggunakan nama pahlawan dari unsur militer: Sudirman, A. Yani, Suprapto, Gatot Subroto, Basuki Rachmat, dan sebagainya. Sedangkan para penyair, tokoh pendidik, ulama, kadangkala dipakai sebagai nama jalan yang tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat yang tinggal di jalan tersebut, atau bahkan tidak ada sangkut-pautnya sama sekali. Di Jombang, jalan menuju Tebuireng sudah dinamakan Jl. KH. Hasyim Asy’ari. Jalan menuju PP. Tambakberas juga sudah dinamakan Jl. KH. A. Wahab Chasbullah. Di Jakarta, ketika saya nggojek melintas di Jl. Hasyim Ashari (demikian memang yang tertulis), malah ada diskotik yang menyaru tempat karaoke. Asem tenan. Ya begini memang resiko kalau nama ulam dijadikan nama jalan umum.

Di Banyuwangi ini, saya melihat anak-anak muda yang punya kegemaran mengumpulkan serpihan sejarah NU dan sejarah Islam di Blambangan. Namanya Komunitas Pegon. Dipimpin oleh Mas Barrurrohim alias Mas Ayunk Notonegoro. Tulisannya bagus. Detail. Disertai upaya pelacakan manuskrip-manuskrip kuno dan artefak seputar pembentukan NU Blambangan. Hingga saat ini, dia bersama komunitasnya sering sowan ke beberapa ulama Banyuwangi untuk melacak manuskrip peninggalan orangtua beliau-beliau maupun beberapa koleksi serpihan sejarah dari majalah Soeara NO, tulisan tangan yang berkaitan dengan NU dan berbagai foto klasik.

Penguatan karakteristik masyarakat, antara lain, bisa dimulai dengan penggalian kiprah para tokoh ulama lokal. Ditulis pendek maupun dibukukan.

Saat ini kurang lebih ada 230 an buku biografi ulama Nusantara yang ada di rak buku saya. Sebagian malah dapat di toko buku bekas di Kampoeng Ilmu, Jl. Semarang di Surabaya. Koleksi ini akan terus bertambah manakala ada banyak penulis yang mengangkat tokoh ulama lokal. Sebab, seringkali banyak keilmuan dan kebijaksanaan yang berbeda antara satu ulama di satu daerah dengan kawasan lainnya.

Semua harus ditulis oleh kita, bagian nahdliyyin, bagian dari kaum santri. Sebab, kita punya basis data dan koleksi kekayaan intelektual para ulama kita dalam bentuk manuskrip maupun cetakan. Kalau ditelateni dan diseriusi, ini nggak bakal habis dan semakin memperkaya khazanah intelektual Islam Nusantara.

Tahun 1990-an, para ulama NU Jawa Timur dan mantan anggota Hizbullah mengadakan simposium mengenai perjuangan kemerdekaan. Lalu, ada pertanyaan yang diajukan seorang kiai kepada sejawaran militer yang hadir sebagai narasumber, “Mengapa sejarah perjuangan para ulama tidak pernah ditulis di buku-buku sejarah nasional?” sejarawan itu menjawab diplomatis, “Mengapa harus kami yang menulis? Bukankah anda punya data, pelaku dan saksi masih hidup. Tulis saja sejarah versi anda semua!”
Lalu lahirlah buku “Peranan Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan” (1995) yang disusun oleh Tim PWNU Jawa Timur. Disusul oleh “Laskar Hizbullah Berjuang Menegakkan Negara RI” yang ditulis oleh pelaku sejarah, KH. Hasjim Latief. Diterbitkan oleh LTN PBNU tahun 1995. Isinya bagus, tapi sayang covernya malah pake bendera Kanada. Qiqiqiqi…

Mengkaji sejarah itu mengasyikkan. Ibarat menarik anak panah, semakin kuat tarikannya ke belakang, semakin jauh pula ia melesat. Semakin intens mengkaji masa lalu, maka semakin kuat menyikapi hari ini, dan mempersiapkan masa depan. Sebab, sejarah selalu berulang dengan pelaku yang berbeda.

(Disampaikan dalam Seminar Pra Konfercab PCNU Banyuwangi, Hari ini, Rabu, 11 April 2018 di kantor PCNU Banyuwangi oleh Rijaldinho)

Leave a Comment