Keris Sebagai Karya Seni Rupa

Keris Sebagai Karya Seni Rupa

Mungkin tidak ada benda budaya yang lebih paradoks daripada keris. Ada dukungan politik dari pemerintah, tapi beberapa orang melihat satu mata dan yang satunya lagi di keris. Namun, keris tetap “beredar” di bawah permukaan pada semua lapisan sosial, dari jarak jauh hingga metropolitan. Di tengah semua paradoks keris, Basuki Teguh Yuwono (36), seorang kester dan salah satu aktivis keris atau tosan aji, mendedikasikan dirinya pada martabat belati.

Pada usia yang relatif muda ia membawa keris buatannya ke luar negeri melalui sejumlah pameran, seperti Malaysia, Thailand, Belgia, Jepang dan Korea Selatan. Dalam perjalanan sekitar 13 tahun, didukung oleh Chris-lover Dr. Bambang Gunawan, SpOG, ia membangun sebuah museum keris di Desa Wonosari, Karanganyar, Jawa Tengah.

Museum Kris dan Fossil di Brojobuwono diresmikan pada tanggal 26 Mei 2012. Museum Kris dibuka untuk umum, dengan koleksi lebih dari 400 majalah, termasuk dolkkoningen, tombak, pedang dan senjata tradisional dari sejumlah daerah. Dia juga membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar tentang Kris secara gratis. Basuki bisa disebut “master progresif” yang membawa paradigma baru di pedesaan. Ini menggabungkan semangat sains dan konsistensi ke dalam nilai-nilai tradisional. Lulusan dari Departemen Kerajinan Kayu, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, ini menunjukkan dirinya sebagai haus akan pengetahuan, penelitian dan eksperimen.

Dia juga memiliki misi untuk menghidupkan kembali budaya keris pada peraturan adat, tradisi dan ritual sebagai bagian dari spiritualisme Jawa. Mula-mula ia merasa termotivasi saat terpilih sebagai mahasiswanya untuk ISI Surakarta. Dia bertemu dengan Presiden Soeharto di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada tahun 1997. “Dalam sebuah dialog dengan Pak Harto, saya ditanya bagaimana pemikiran saya: Saya mengatakan bahwa saya ingin mengabdikan diri untuk membangun desa,” katanya. Basuki mendedikasikan dirinya ke desanya dengan menangis dengan intens. Pada tahun 1999 ia mendirikan Brojobuwono Pedalokan, produksi keris peluruhan, di rumahnya, di desa kering, tidak jauh dari tempat induk lama Sangiran. Terletak sekitar 14 kilometer timur laut Kota Solo.

referensi : jual keris pusaka , amazon

Leave a Comment