Daftar Wisata Pegunungan Terbaik Di Jawa Timur Untuk Liburan

Daftar Wisata Pegunungan Terbaik Di Jawa Timur Untuk Liburan. Jawa Timur merupakan provinsi di Indonesia yang kaya akan potensi alamnya. Oleh karena itu, di sana banyak tempat wisata yang bertemakan alam dan sangat menakjubkan. Setiap tahunnya apa lagi hari libur pasti banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestic maupun luar negeri. Seperti yang satu ini, wisata gunung, di Jawa Timur sendiri memiliki icon yang bisa anda kunjungi.

 

Daftar Wisata Pegunungan Di Jawa Timur

  1. Gunung Bromo

Salah satu icon wisata gunung di Jawa Timur adalah Gunung Bromo. Gunung Bromo sendiri berada di Lumajang dan juga ada di Malang. Oleh karena itu, anda bisa pilih tour Malang bromo yang terbaik. Ciri khas dari Gunung Bromo adalah keindahan sunrise nya dan anda pun bisa mendaki gunung dan melihat kawahnya langsung. Jika ke sana jangan lupa menyiapkan pakaian hangat karena udaranya sangat dingin terlebih lagi pada saat subuh.

  1. Kawah Ijen

Jawa Timur merupakan surganya wisata gunung dan salah satu yang terbaik adalah Kawah Ijen di Bondowoso. Kawah Ijen tersebut merupakan kawah sulfur yang memiliki tinggi kaldera 500 meter dan luas 5.466 hektare. Ciri khas dari Kawah Ijen adalah keindahan Blue Fire. Istilah Blue Fire tersebut karena pada pukul 2 hingga 4 pagi kawah berubah warna menjadi berwarna biru. Anda bisa melihat fenomena unik tersebut di Kawasan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Bondowoso.

  1. Gunung Semeru

Gunung tertinggi di Pulau Jawa ternyata ada di Jawa Timur yaitu Gunung Semeru. Wisata gunung di Jawa Timur tersebut sangat difavoritkan karena pesona dari Gunung Semeru sangat memikat hati. Spot pendakian yang menjadi favorit adalah Ranu Kumbolo dengan danaunya yang jernih dan berada di ketinggian. Udara di sana juga sangat sejuk sehingga banyak pendaki yang mendirikan tenda di sini.

Jawa Timur mungkin dijuluki sebagai tempat wisata gunung terfavorit. Ketiga tempat wisata gunung di atas setiap tahunnya pasti dikunjungi oleh banyak wisatawan. Bagi anda yang ingin melihat keindahan alam ciptaan Sang Kuasa bisa mengunjungi ketiga tempat tersebut dan temukan pengalaman baru di sana.

Mau Liburan Ke Malang? Cek Panduan dan Tipsnya Disini

Panduan Untuk Berwisata Di Malang .Untuk anda yang berencana untuk mengunjungi Jawa Timur, anda harus menyempatkan waktu untuk mengunjungi Kota Malang. Kota Malang dikenal sebagai salah satu kota yang menawarkan berbagai macam jenis wisata yang dapat anda temukan sampai dikenal dengan sebutan kota surganya wisata. Kota Malang menawarkan berbagai macam pesona dengan keindahannya.

Walaupun dapat diketahui bahwa popularitas yang dimiliki oleh kota Malang tidak sebesar dengan Bali, namun minat wisata yang dimiliki oleh pengunjung masih besar. Bukan hanya warga lokal, namun warga dari luar negri atau Internasional juga tidak sedikit yang mengunjungi pariwisata kota Malang khususnya untuk warga Eropa yang banyak ditemukan

Mau Liburan Ke Malang? Cek Panduan dan Tipsnya Disini

Tips Liburan ke Malang Batu

Tentunya hal ini sudah memiliki bukti dari data dari kunjungan wisatawan yang ada baik domestik maupun mancanegara. Namun untuk lebih jelasnya inilah beberapa panduan singkat untuk anda yang ingin berkunjung ke Malang dan berwisata di kota yang menjadi surganya wisata untuk para wisatawan ini bahkan sudah banyak paket wisata Malang yang dapat ditemukan.

Seperti yang kita ketahui bahwa kota Malang sendiri adalah salah satu kota yang memiliki udara yang sejuk dan membuat setiap orang yang mengunjungi kota Malang, malas untuk beranjak pergi dikarenakan udara nya yang dapat menenangkan. Hal ini dikarenakan kota Malang yang dikelilingi oleh empat gunung yaitu Semeru di sebelah timur Panderman, kawi, dan Gunung Arjuno.

Kota Malang ini adalah memiliki keunikan lainnyam yaitu beberapa budaya menarik yang ada. Bahasa Malang adalah bahasa ibu yang digunakan di daerah kota Jawa Timur. Bahasa yang ada juga cenderung lebih keras, tegas dan frontal. Jadi salah satu hal yang harus anda perhatikan saat berkunjung ke Malang adalah terbiasalah engan bahasa yang digunakan.

Memang bahasa yang digunakan frontal, dan memang seperti itu bahasa yang digunakan dan bahkan terkesan seperti membentak. Jika kita membicarakan beberapa budaya selain bahasa, kota Malang ini adalah salah satu kota yang mempunyai cara unik untuk mengenang masa lalu dan membuat acara khusus yang bertarjuk Festival Malang kembali.

Itulah beberapa keunikan dan beberap panduan untuk anda yang ingin berkunjung ke Malang.

 

Penulisan Sejarah Itu Ilmiah Namun Juga Ideologis Politis

Proses penulisan sejarah itu bukan hanya wilayah akademis-ilmiah, melainkan juga ideologis-politis. Karena itu di zaman Orde Baru, penulisan sejarah bersifat militeristrik-sentris. Narasi sejarah adalah narasi kiprah para pejuang di medan perang. Karena itu yang dipelajari adalah sejarah perang, perang antar kerajaan, pejuang vs VOC, perang saudara, dan konflik kekuasaan. Bukan sejarah ilmu pengetahuan, bukan pula sejarah pembentukan peradaban Nusantara.

Peneliti sejarah alias sejarawan itu berbeda dengan tukang dongeng alias shohibul hikayah. Pendongeng bisa saja menyampaikan cerita secara apa adanya maupun dibumbui dengan unsur lain agar menarik dan bombastis, tapi sejarawan harus teliti dengan metode heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Data yang ada harus dikroscek, diteliti, dianalisis-tafsirkan, hingga disusun secara sistematik.

Pengetahuan sejarah juga dibentuk melalui nama jalan. Di era Orde Baru, nama-nama jalan protokol semua menggunakan nama pahlawan dari unsur militer: Sudirman, A. Yani, Suprapto, Gatot Subroto, Basuki Rachmat, dan sebagainya. Sedangkan para penyair, tokoh pendidik, ulama, kadangkala dipakai sebagai nama jalan yang tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat yang tinggal di jalan tersebut, atau bahkan tidak ada sangkut-pautnya sama sekali. Di Jombang, jalan menuju Tebuireng sudah dinamakan Jl. KH. Hasyim Asy’ari. Jalan menuju PP. Tambakberas juga sudah dinamakan Jl. KH. A. Wahab Chasbullah. Di Jakarta, ketika saya nggojek melintas di Jl. Hasyim Ashari (demikian memang yang tertulis), malah ada diskotik yang menyaru tempat karaoke. Asem tenan. Ya begini memang resiko kalau nama ulam dijadikan nama jalan umum.

Di Banyuwangi ini, saya melihat anak-anak muda yang punya kegemaran mengumpulkan serpihan sejarah NU dan sejarah Islam di Blambangan. Namanya Komunitas Pegon. Dipimpin oleh Mas Barrurrohim alias Mas Ayunk Notonegoro. Tulisannya bagus. Detail. Disertai upaya pelacakan manuskrip-manuskrip kuno dan artefak seputar pembentukan NU Blambangan. Hingga saat ini, dia bersama komunitasnya sering sowan ke beberapa ulama Banyuwangi untuk melacak manuskrip peninggalan orangtua beliau-beliau maupun beberapa koleksi serpihan sejarah dari majalah Soeara NO, tulisan tangan yang berkaitan dengan NU dan berbagai foto klasik.

Penguatan karakteristik masyarakat, antara lain, bisa dimulai dengan penggalian kiprah para tokoh ulama lokal. Ditulis pendek maupun dibukukan.

Saat ini kurang lebih ada 230 an buku biografi ulama Nusantara yang ada di rak buku saya. Sebagian malah dapat di toko buku bekas di Kampoeng Ilmu, Jl. Semarang di Surabaya. Koleksi ini akan terus bertambah manakala ada banyak penulis yang mengangkat tokoh ulama lokal. Sebab, seringkali banyak keilmuan dan kebijaksanaan yang berbeda antara satu ulama di satu daerah dengan kawasan lainnya.

Semua harus ditulis oleh kita, bagian nahdliyyin, bagian dari kaum santri. Sebab, kita punya basis data dan koleksi kekayaan intelektual para ulama kita dalam bentuk manuskrip maupun cetakan. Kalau ditelateni dan diseriusi, ini nggak bakal habis dan semakin memperkaya khazanah intelektual Islam Nusantara.

Tahun 1990-an, para ulama NU Jawa Timur dan mantan anggota Hizbullah mengadakan simposium mengenai perjuangan kemerdekaan. Lalu, ada pertanyaan yang diajukan seorang kiai kepada sejawaran militer yang hadir sebagai narasumber, “Mengapa sejarah perjuangan para ulama tidak pernah ditulis di buku-buku sejarah nasional?” sejarawan itu menjawab diplomatis, “Mengapa harus kami yang menulis? Bukankah anda punya data, pelaku dan saksi masih hidup. Tulis saja sejarah versi anda semua!”
Lalu lahirlah buku “Peranan Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan” (1995) yang disusun oleh Tim PWNU Jawa Timur. Disusul oleh “Laskar Hizbullah Berjuang Menegakkan Negara RI” yang ditulis oleh pelaku sejarah, KH. Hasjim Latief. Diterbitkan oleh LTN PBNU tahun 1995. Isinya bagus, tapi sayang covernya malah pake bendera Kanada. Qiqiqiqi…

Mengkaji sejarah itu mengasyikkan. Ibarat menarik anak panah, semakin kuat tarikannya ke belakang, semakin jauh pula ia melesat. Semakin intens mengkaji masa lalu, maka semakin kuat menyikapi hari ini, dan mempersiapkan masa depan. Sebab, sejarah selalu berulang dengan pelaku yang berbeda.

(Disampaikan dalam Seminar Pra Konfercab PCNU Banyuwangi, Hari ini, Rabu, 11 April 2018 di kantor PCNU Banyuwangi oleh Rijaldinho)